- Police Expo 2026 Resmi Dibuka, Gubernur Muhidin Ajak Warga Kalsel Meriahkan Hari Bhayangkara ke-80
- Pemprov Kalsel Jemput Anak Putus Sekolah, Pendidikan Kesetaraan Diperkuat
- Hadapi Puncak Kemarau, Pemprov Kalsel Perkuat Kompetensi Damkar
- Rayakan Hari Bhayangkara ke-80, Polda Kalsel Gelar Bakti Sosial untuk Masyarakat
- Silaturahmi Gubernur H. Muhidin Bersama Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI); Sinergi Peluang Kerja Aman dan Berkualitas bagi Masyarakat
- Kapolda Kalsel Pimpin Anjangsana Sambut Hari Bhayangkara ke-80
- Kalsel Siapkan Perdagangan Karbon sebagai Sumber Ekonomi Masa Depan
- Gubernur H. Muhidin Launching Layanan Devisa Bank Kalsel; Siap Layani Transaksi Internasional
- Polda Kalsel Musnahkan 2,7 Kg Sabu dan 7.019 Butir Ekstasi
- Gubernur H. Muhidin Resmi Buka MTQ Nasional XXXVII Tingkat Provinsi Kalsel di Barito Kuala
Resep Bir Tertua di Dunia Dibangkitkan dari Roti Bekas untuk Kurangi Sampah Makanan

Keterangan Gambar : Bir tertua di dunia kini kembali hidup berkat Toast Brewing London, menggunakan roti bekas untuk mengurangi limbah makanan dan jejak karbon, terinspirasi resep kuno bangsa Sumeria ribuan tahun lalu.

Banjarbaru, smartbanua.com – Bir bukan sekadar minuman, tapi juga sejarah. Ketika orang pertama kali menyesap bir berbusa di Mesopotamia ribuan tahun lalu, mereka menikmati minuman yang kental, hangat, dan terbuat dari roti bir – roti jelai yang dipanggang dua kali untuk menyediakan gula bagi fermentasi. Resep kuno ini tertulis di tablet tanah liat sebagai puisi untuk Ninkasi, dewi bir, menandai betapa pentingnya bir bagi bangsa Sumeria.
Ribuan tahun kemudian, pada 2016, Toast Brewing di London menghidupkan kembali resep kuno ini. Terinspirasi oleh limbah roti yang melimpah dari pabrik dan supermarket, para pendirinya, Tristram Stuart dan Louisa Ziane, memutuskan memanfaatkan roti sisa untuk membuat bir bernilai tinggi. Setiap tahun, diperkirakan 900.000 ton roti berakhir di tempat sampah secara global – setara dengan 24 juta potong roti setiap hari.
Baca Lainnya :
- Topan Super Fung-wong Hantam Filipina, 2 Tewas dan 1 Juta Warga Mengungsi0
- Gubernur Kalsel Tegaskan Penempatan Dana Pemprov di Bank Kalsel Aman dan Menguntungkan0
- Soeharto Resmi Jadi Pahlawan Nasional 2025, Bersamaan dengan 9 Tokoh Lainnya0
- Entry Meeting Gabungan, Gubernur H. Muhidin Berkomitmen Perbaiki Tata Kelola Keuangan dan Pembangunan Daerah0
- Gubernur Kalsel Dukung Sinergi TNI dan Kejaksaan Amankan Aset Negara0
“Roti yang terbuang bisa diubah menjadi sesuatu yang bernilai, sekaligus mengurangi dampak lingkungan,” kata Ziane. Pendekatan ini tidak hanya menghidupkan kembali tradisi bir kuno, tapi juga memberikan solusi berkelanjutan terhadap sampah makanan dan emisi gas rumah kaca.
Bir berbasis roti ini memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibanding bir biasa. Toast Brewing menggunakan 25% roti bekas untuk menggantikan biji-bijian, mengurangi konsumsi karbon, air, dan lahan. Antara 2016–2022, perusahaan telah berhasil menghindari 61 ton setara CO₂ melalui metode ini. Selain itu, limbah sisa roti digunakan sebagai pakan ternak lokal, sehingga tidak menimbulkan metana di tempat pembuangan.
Sistem produksi bir berbahan roti ini terinspirasi oleh tradisi kuno, di mana toko roti dan pabrik bir lokal saling bertukar bahan baku untuk mengurangi limbah. Saat ini, Toast Brewing bekerja sama dengan produsen bir lokal di Inggris, Belgia, Belanda, dan Australia, menjaga rantai pasokan tetap dekat dengan konsumen dan menurunkan jejak karbon distribusi.
Langkah-langkah keberlanjutan lain termasuk pengalihan kemasan dari botol kaca ke kaleng, serta perhitungan penuh terhadap dampak energi selama produksi. Hasilnya, bir berbahan roti Toast memiliki jejak karbon 604 g CO₂ per liter, lebih rendah dibanding rata-rata Inggris (700 g) dan AS (900 g).
Dengan menghidupkan kembali resep bir Sumeria dan memanfaatkan roti bekas, Toast Brewing tidak hanya merayakan sejarah bir, tapi juga menekankan pentingnya kesadaran lingkungan, keberlanjutan, dan penghargaan terhadap makanan. Masa depan bir mungkin terlihat lebih mirip bir masa lalu: sedikit lebih dingin, lebih ringan, dan tetap disukai banyak orang. (/smartbanua)
