- Pemprov Bersama TNI dan Polri Sidak SPBU, Pastikan Distubusi BBM Subsidi Solar Lancar
- Sekdaprov Kalsel Buka Rakor Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan di Banjar
- Sopir Truk Datangi Kantor Gubernur Menjerit Solar Sulit Didapat
- Pemprov Kalsel Terima Sertifikat Pencatatan Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) Musik Panting
- Segarkan Organisasi Gubernur Muhidin Kembali Lantik Ratusan Pejabat
- Sekdaprov Kalsel Hadiri Tabligh Akbar dan Haul ke-6 Almarhum H. Andi Arsyad Petta Tahang di Tanah Bunbu
- Polda Kalsel Sosialisasikan KUR Himbara Tanpa Agunan untuk Petani Jagung
- Gubernur Kalsel Bakal Evaluasi Kembali Kinerja Pejabat hingga Eselon IV
- Kolaborasi Dispora dan DLH Kalsel Libatkan Pemuda Jadi Agen Lingkungan
- Terima Reses Komisi XI DPR RI, Gubernur H. Muhidin Sampaikan Keberhasilan Pemprov Kalsel atas Kinerja Tinggi dan Penurunan Stunting serta Kemiskinan
DK Banjarmasin Gelar Dialektika Sastra Menara Pandang 2025, Hadirkan Ruang Pertemuan Para Penyair Muda


Banjarmasin—Dewan Kesenian (DK) Banjarmasin bersama Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin menggelar Dialektika Sastra Menara Pandang 2025, sebuah perhelatan yang diproyeksikan menjadi titik temu gagasan, karya, dan semangat kreatif generasi baru.
Baca Lainnya :
- 22 Orang Tewas dalam Kebakaran Ruko Terra Drone Kemayoran, Seluruh Korban Berhasil Diidentifikasi Tanpa Tes DNA0
- Pemprov Kalsel Gelar Program Rehabilitasi Sosial Remaja Angkatan VIII Tahun 2025, Libatkan 90 Peserta dari 13 Kabupaten/Kota0
- Gubernur Kalsel dan Pangdam XXII Teken Kesepakatan Pembangunan Kodam Lambung Mangkurat di Banjarbaru0
- Pemprov Kalsel Matangkan Persiapan Haul Abah Guru Sekumpul ke-21 Tahun 20250
- Gubernur Kalsel Dukung Komitmen Bupati Tabalong Tingkatkan Inovasi dan Pelayanan Publik0
Gelaran dua hari yang berlangsung pada 12–13 Desember 2025 ini mengambil tempat di Banjarmasin Culture Hub (Eks Rumah Anno), ruang budaya yang belakangan kian berkembang sebagai destinasi kreatif kota seribu sungai.
Dialektika Sastra 2025 ini dirancang sebagai ruang interaksi terbuka antara generasi penyair muda dan para sastrawan senior. Melalui forum diskusi, pembacaan puisi, bedah karya, serta sesi apresiasi sastra, kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem literasi di Kalimantan Selatan, khususnya Kota Banjarmasin.
Agenda Dialektika Sastra tahun ini mencakup Forum Penyair Muda Kalimantan Selatan, Lomba Baca Puisi Tingkat SMP se-Kota Banjarmasin, Panggung Puisi dan Orasi Budaya, Pameran Arsip Sastra, serta penganugerahan Puisi Hijaz Yamani. Kemudian, sebanyak 4 pembedah yakni HE Benyamine, Sumasno Hadi, Nailiya Nikmah dan Dewi Alfianti.
Sebanyak 14 penyair muda terpilih mengikuti forum ini, yaitu: Muhammad Daffa, Muhammad Irwan Aprialdy, Muhammad Jayadi, M. Rahim Arza, Wildanne, Arif Rahman Heriansyah, Syarif Hidayatullah, Muchlis Abdi, Fitri Sei Getas, Hadani Had, Murni Marfuah, Mahfudz Amin, Rezqie M. A. Atmanegara dan Aluh Srikandi.
Setiap peserta akan memperoleh buku antologi puisi berjudul 'Pesiar Tanpa Berlayar' sebuah kumpulan puisi Penyair Muda Kalimantan Selatan. Kemudian, terdaftar 61 siswa SMP se-Kota Banjarmasin turut berpartisipasi dalam Lomba Baca Puisi 2025, yang diselenggarakan dengan dukungan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Banjarmasin.
Sementara itu Ketua Dewan Kesenian Banjarmasin, Hajriansyah mengenang bahwa forum-forum penyair memiliki sejarah panjang di Banjarmasin. Pada tahun 1980, berbagai kelompok diskusi sastra mulai tumbuh di angkatannya, yang kemudian melahirkan Himpunan Penyair Muda Banjarmasin (HPMB) pada tahun 1981 sebagai wadah kreatif yang lebih terorganisasi.
Hajriansyah juga mengingatkan momen penting Forum Penyair Muda 8 Kota se-Kalimantan Selatan yang digelar pada 18–19 September 1982 di Balai Wartawan Banjarmasin. Menurutnya, forum tersebut menjadi pijakan penting bagi tumbuhnya ruang apresiasi sastra di daerah.
Sementara itu, sastrawan Micky Hidayat mengajak masyarakat Kalimantan Selatan, khususnya pegiat sastra dan pencinta puisi, untuk menghadiri dan memeriahkan Dialektika Sastra Menara Pandang 2025. Menurutnya, Forum Penyair Muda menjadi ruang kreatif yang menampilkan penyair potensial dengan penguasaan teknis perpuisian dan kepekaan bahasa.
Micky juga menegaskan bahwa istilah “penyair muda” tidak hanya merujuk pada usia, tetapi pada fase perjalanan kreatif seorang penyair. “Muda” dimaknai sebagai tahap awal yang sedang berkembang dalam menekuni dunia puisi. Meski demikian, peserta forum pada umumnya berusia di bawah 40 tahun atau berasal dari generasi 1980-an hingga 2000-an.
Micky juga menekankan pentingnya kesiapan mental bagi para peserta. Ia berpesan agar penyair tidak mudah tersinggung atau kecewa ketika karya mereka dikritik.
"Apabila karya-karya kalian nantinya dikritik tajam, dinilai kurang berkualitas, atau dianggap belum layak disebut sebagai puisi yang baik, jangan bersikap emosional. Sikap seperti itu tidak akan membawa perkembangan. Perlu diingat bahwa puisi adalah perjalanan batin seorang penyair, dan forum ini hanyalah satu bagian kecil dari perjalanan panjang tersebut,” ujar Penyair yang dikenal dengan julukan Burung Gelatik itu.
Terakhir, Micky berharap session pembahasan karya dapat berlangsung dalam suasana dialogis dan penuh dialektika, sehingga membuka ruang argumentasi yang sehat antara penyair dan para pembahas. Dengan begitu, forum akan terasa lebih hangat, produktif, dan memperkaya wawasan kepenyairan bagi semua peserta. (Rahim Arza/Smartbanua)


