- Panglima Batur Salurkan Makanan dan BBM Gratis untuk Relawan Karhutla
- Hari Santri 2026 di Kalsel, Momentum Santri Jadi Agen Perubahan
- Polresta Banjarmasin Tangkap Pelaku Penyalahgunaan BBM Subsidi
- Atasi Karhutla, Dry Ice Ditebar di Langit Kalsel
- BNPB Siapkan Teknologi Dry Ice untuk Bantu Penanganan Karhutla di Kalsel
- Empat Korporasi Tersangka Karhutla
- Pemprov Kalsel Minta Pulangkan Kepala Demang Lehman dari Belanda
- Karhutla Sambang Lihum Ditangani dengan Membalik Gambut dan Pembasahan, Asap Mulai Berkurang
- Banjartimes Bersama Kurawal Foundation Gelar Diskusi Publik Ketika Jurnalisme Kembali Mencari Jalan Pulang kepada Warga
- TPP ASN Kalsel Naik hingga 98 Persen, Gubernur Minta Kinerja Makin Baik
Wayang Golek Sunda: Sejarah, Perkembangan, dan Nilai Budaya Sejak Abad ke-17

smartbanua.com - Wayang Golek merupakan salah satu kesenian tradisional khas Jawa Barat yang berkembang pesat di tanah Sunda sejak abad ke-17. Seni pertunjukan ini lahir sebagai bentuk adaptasi dari wayang kulit yang lebih dulu dikenal di wilayah Jawa Tengah, kemudian disesuaikan dengan karakter budaya masyarakat Sunda yang akrab dengan bentuk tiga dimensi.
Kedekatan tersebut melahirkan boneka kayu sebagai tokoh utama dalam pementasan Wayang Golek. Dilansir dari laman Sanggar Seni Getar Pakuan, kesenian ini pertama kali dipopulerkan oleh Dalang Jayaperbangsa. Perannya menjadi tonggak awal berkembangnya Wayang Golek sebagai identitas budaya masyarakat Sunda.
Baca Lainnya :
- Kehangatan di RS Bhayangkara, Gubernur dan Kapolda Kalsel Dampingi Dua Anak Yatim Pejuang Kesembuhan0
- Gemar Minum Susu Akan Diperkuat di Kalsel0
- Rekonstruksi Pembunuhan Mahasiswi ULM, Seili Peragakan 18 Adegan0
- Tulisan Masjid Raya Sabilal Muhtadin Berubah Biru, Ini Penjelasan Pengelola0
- Bertemu Saat Banjir Rob Sei Tabuk, Kapolda Kalsel Berikan Bantuan Biaya Pengobatan Anak Yatim Piatu Korban Laka Lantas0
Seiring perjalanan waktu, Wayang Golek terus mengalami penguatan berkat kontribusi para dalang generasi berikutnya. Puncak popularitasnya terjadi pada abad ke-19, ditandai dengan kemunculan dalang-dalang legendaris Jawa Barat seperti Ki Darman dan Ki Haji Sukarta. Keduanya dikenal luas berkat keberhasilannya memperluas jangkauan pertunjukan Wayang Golek hingga ke berbagai daerah.
Dalam perkembangannya, kisah-kisah besar dari epos Mahabharata dan Ramayana tidak hanya diadaptasi, tetapi juga dipadukan dengan cerita rakyat lokal. Legenda Ciung Wanara dan Sangkuriang menjadi narasi khas yang memperkaya khasanah cerita Wayang Golek Sunda secara turun-temurun.
Setiap pementasan Wayang Golek sarat dengan pesan moral yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sunda. Tokoh Semar dan Punakawan kerap tampil sebagai figur sentral yang menyampaikan nilai-nilai kebijaksanaan, kejujuran, kesetiaan, serta keberanian dalam menghadapi kehidupan.
Dalam budaya Jawa Barat, Wayang Golek lazim dipentaskan pada berbagai upacara adat dan perayaan penting masyarakat. Selain itu, pertunjukan ini juga kerap hadir dalam acara kenegaraan, festival budaya, hingga penyambutan tamu penting tingkat nasional maupun internasional.
Dalang Wayang Golek memegang peran sentral dalam pertunjukan, mulai dari pencerita, penggerak boneka, pengisi suara, hingga pemimpin musik. Di tengah arus modernisasi, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan agar Wayang Golek tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi. (/smartbanua)
