- Jelang Lebaran, Karantina Kalsel Perketat Pengawasan Komoditas di Pelabuhan Trisakti
- Musyawarah Masyarakat Seni dan Ngaji Puisi ke 6 Digelar Khidmat di Banjarmasin
- Jasa Raharja Kalsel Perkuat Sinergi, Dukung Mudik Aman 2026
- 2.189 Personel Amankan Lebaran di Kalsel
- Polda Kalsel Lepas 617 Peserta Mudik Gratis, Antusias Meningkat
- Polda Kalsel dan Bulog Gerakan Pangan Murah, Masyarakat Terbantu
- Puisi sebagai Ruang Membaca Realitas: Buku Pesiar Tanpa Berlayar Dibedah di Kampung Buku Banjarmasin
- Gubernur H. Muhidin Berbuka Puasa Bersama Ketua DPRD Kalsel; Keberhasilan Pembangunan Sinergi Kuat Pemerintah, Legislatif dan Masyarakat
- Kantor Gubernur Kalsel dan Gedung Idham Chalid Resmi Kantongi PBG dan SLF dari Pemkot Banjarbaru
- Gubernur Kalsel H. Muhidin Lantik Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama di Mahligai Pancasila, Penyegaran Birokrasi di Bulan Ramadan
Wayang Golek Sunda: Sejarah, Perkembangan, dan Nilai Budaya Sejak Abad ke-17

smartbanua.com - Wayang Golek merupakan salah satu kesenian tradisional khas Jawa Barat yang berkembang pesat di tanah Sunda sejak abad ke-17. Seni pertunjukan ini lahir sebagai bentuk adaptasi dari wayang kulit yang lebih dulu dikenal di wilayah Jawa Tengah, kemudian disesuaikan dengan karakter budaya masyarakat Sunda yang akrab dengan bentuk tiga dimensi.
Kedekatan tersebut melahirkan boneka kayu sebagai tokoh utama dalam pementasan Wayang Golek. Dilansir dari laman Sanggar Seni Getar Pakuan, kesenian ini pertama kali dipopulerkan oleh Dalang Jayaperbangsa. Perannya menjadi tonggak awal berkembangnya Wayang Golek sebagai identitas budaya masyarakat Sunda.
Baca Lainnya :
- Kehangatan di RS Bhayangkara, Gubernur dan Kapolda Kalsel Dampingi Dua Anak Yatim Pejuang Kesembuhan0
- Gemar Minum Susu Akan Diperkuat di Kalsel0
- Rekonstruksi Pembunuhan Mahasiswi ULM, Seili Peragakan 18 Adegan0
- Tulisan Masjid Raya Sabilal Muhtadin Berubah Biru, Ini Penjelasan Pengelola0
- Bertemu Saat Banjir Rob Sei Tabuk, Kapolda Kalsel Berikan Bantuan Biaya Pengobatan Anak Yatim Piatu Korban Laka Lantas0
Seiring perjalanan waktu, Wayang Golek terus mengalami penguatan berkat kontribusi para dalang generasi berikutnya. Puncak popularitasnya terjadi pada abad ke-19, ditandai dengan kemunculan dalang-dalang legendaris Jawa Barat seperti Ki Darman dan Ki Haji Sukarta. Keduanya dikenal luas berkat keberhasilannya memperluas jangkauan pertunjukan Wayang Golek hingga ke berbagai daerah.
Dalam perkembangannya, kisah-kisah besar dari epos Mahabharata dan Ramayana tidak hanya diadaptasi, tetapi juga dipadukan dengan cerita rakyat lokal. Legenda Ciung Wanara dan Sangkuriang menjadi narasi khas yang memperkaya khasanah cerita Wayang Golek Sunda secara turun-temurun.
Setiap pementasan Wayang Golek sarat dengan pesan moral yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sunda. Tokoh Semar dan Punakawan kerap tampil sebagai figur sentral yang menyampaikan nilai-nilai kebijaksanaan, kejujuran, kesetiaan, serta keberanian dalam menghadapi kehidupan.
Dalam budaya Jawa Barat, Wayang Golek lazim dipentaskan pada berbagai upacara adat dan perayaan penting masyarakat. Selain itu, pertunjukan ini juga kerap hadir dalam acara kenegaraan, festival budaya, hingga penyambutan tamu penting tingkat nasional maupun internasional.
Dalang Wayang Golek memegang peran sentral dalam pertunjukan, mulai dari pencerita, penggerak boneka, pengisi suara, hingga pemimpin musik. Di tengah arus modernisasi, berbagai upaya pelestarian terus dilakukan agar Wayang Golek tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang sebagai warisan budaya yang bernilai tinggi. (/smartbanua)
