Danlanal : 45 Penyelam Bertaruh Nyawa Evakuasi Korban KM Virgo

By smartbanua 27 Sep 2026, 12:32:01 WITA, 5 Dibaca TNI/Polri
Danlanal : 45 Penyelam Bertaruh Nyawa Evakuasi Korban KM Virgo


Banjarmasin -  Operasi SAR kecelakaan KM Virgo Transport 8 di perairan Laut Jawa memasuki hari ke-14, Sabtu 26 September 2026, Di balik proses evakuasi para korban, 45 penyelam gabungan Satkopaska, Dislambair TNI Angkatan Laut, dan Basarnas Special Group menghadapi risiko besar di bawah laut.

Mereka tidak hanya berpacu dengan waktu, tetapi juga harus berhadapan dengan kondisi ekstrem di sekitar bangkai kapal. Kedalaman laut, tekanan air, arus bawah laut yang kuat, hingga kondisi jenazah menjadi tantangan yang harus dihadapi selama proses evakuasi.

Baca Lainnya :

Danlanal Banjarmasin, Kolonel Laut (P) Galih Nurna Putra, S.H., M.Tr.Opsla., mengatakan keselamatan para penyelam menjadi perhatian utama karena mereka telah menjalankan misi selama hampir dua pekan.

"Penyelam kita sudah bekerja hampir dua minggu di kedalaman. Kedalaman laut, tekanan air yang sangat berpengaruh, arus bawah laut yang sangat keras, hingga kondisi kontaminasi dari jenazah korban menjadi tantangan utama," ujar Galih di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin, Sabtu.

Menurutnya, TNI AL tidak ingin proses penyelamatan justru menimbulkan korban tambahan dari personel yang terlibat dalam operasi.

"Kita tidak mau orang-orang yang berniat menolong justru menjadi korban dalam operasi SAR ini," tegasnya.

Secara teknis, kedalaman dan tekanan hidrostatis menjadi salah satu risiko utama bagi penyelam. Semakin dalam lokasi bangkai kapal, semakin besar tekanan air yang diterima tubuh.

Kondisi tersebut diperberat dengan arus bawah laut yang kuat, sehingga penyelam membutuhkan tenaga dan daya tahan fisik lebih besar ketika harus bertahan di posisi tertentu untuk membongkar bagian kapal maupun mengevakuasi korban.

Selain faktor lingkungan, penyelam juga menghadapi risiko penyakit dekompresi atau decompression sickness akibat aktivitas penyelaman berulang.

Ahli Hiperbarik Lakesla TNI AL, Mayor Laut (K) dr. Dony Irawan, menjelaskan penyelaman berulang pada kedalaman tertentu dapat menyebabkan nitrogen terlarut dalam tubuh membentuk gelembung gas apabila proses naik ke permukaan tidak dilakukan sesuai prosedur.

"Dampak ringan sampai sedang yaitu munculnya ruam kemerahan pada kulit hingga nyeri sendi yang sangat hebat. Kemudian dampak berat seperti kerusakan sistem saraf pusat yang dapat berujung pada kelumpuhan permanen," jelas Dony.

Risiko lain berasal dari kondisi jenazah yang telah berada cukup lama di dalam air. Penyelam berpotensi terpapar mikroorganisme maupun bakteri sehingga prosedur dekontaminasi diterapkan setelah mereka kembali ke permukaan.

Setiap penyelam diwajibkan menjalani proses dekontaminasi dengan penyemprotan dan pencucian menggunakan air bersih untuk membersihkan bakteri maupun kontaminan yang menempel pada pakaian dan perlengkapan selam.

Untuk mengantisipasi risiko akibat tekanan ekstrem, TNI AL juga mendatangkan portable chamber atau ruang udara bertekanan tinggi dari Lembaga Kesehatan Kelautan Angkatan Laut (Lakesla).

"Para penyelam akan menjalani terapi hiperbarik di dalam chamber portable selama kurang lebih dua jam dengan simulasi tekanan pada kedalaman 18 meter," terang Dony.

Terapi oksigen hiperbarik tersebut dilakukan untuk membantu mengurangi gelembung nitrogen dalam tubuh sekaligus mendukung pemulihan jaringan setelah penyelaman.

Operasi SAR ini didukung tiga kapal perang TNI AL, yakni KRI Spica, KRI I Gusti Ngurah Rai, dan KRI Sultan Iskandar Muda.

Meski menghadapi berbagai risiko, kondisi fisik seluruh penyelam hingga hari ke-14 operasi dilaporkan tetap stabil. Para personel juga terus berada dalam pemantauan ketat tim medis Lakesla dengan menerapkan prosedur keselamatan penyelaman bawah laut.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment

Loading....



Temukan juga kami di

Ikuti kami di facebook, twitter, Instagram, Youtube dan dapatkan informasi terbaru dari kami disana.