- Sanggar Seni Suluh Banua Angkat Nilai Budaya Dayak Deah Lewat Tari Njipah, Tabalong Juara Umum FKTD Kalsel 2026
- 4.151 Mahasiswa Baru Ikuti PKKMB UNISKA MAB
- Hujan Hasil Operasi Modifikasi Cuaca Guyur Sejumlah Wilayah Kalsel
- Polda Kalsel Kirim 1.000 Liter Cairan Pemadam Karhutla ke Polda Kalteng
- Dishut Kalsel 24 Jam Jaga Hutan Lindung Liang Anggang Dari Karhutla
- Dinkes Kalsel Perkuat Layanan Kesehatan Dampak Kabut Asap
- Pemprov Kalsel Perkuat Kolaborasi Penanganan Jembatan Non-Nasional, Enam Daerah Jadi Pilot Project
- Wagub Kalsel Hasnuryadi Apresiasi Karya Penyandang Disabilitas, Merdeka Berkarya Tanpa Batas
- Kabut Asap Kembali Ganggu 10 Penerbangan di Bandara Syamsudin Noor
- Baayun Maulid Tapin 2026: Tradisi Maulid Nabi dan Warisan Budaya Banjar
Sanggar Seni Suluh Banua Angkat Nilai Budaya Dayak Deah Lewat Tari Njipah, Tabalong Juara Umum FKTD Kalsel 2026


BANJARMASIN — Sanggar Seni Suluh Banua Kabupaten Tabalong menunjukkan komitmennya dalam mengangkat dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal melalui karya tari Njipah. Karya yang mengangkat tradisi berburu babi hutan masyarakat Dayak Deah tersebut berhasil mengantarkan Kabupaten Tabalong meraih Juara Umum Festival Karya Tari Daerah (FKTD) Kalimantan Selatan 2026 pada 8 September lalu di UPTD Taman Budaya Kalsel, Banjarmasin.
Prestasi ini menjadi sejarah baru bagi Kabupaten Tabalong. Untuk pertama kalinya, Tabalong berhasil meraih predikat juara umum dalam ajang seni tari tingkat Provinsi Kalimantan Selatan sekaligus berhak mewakili Banua pada Parade Tari Nusantara TMII 2026 di tingkat nasional.
Baca Lainnya :
- 4.151 Mahasiswa Baru Ikuti PKKMB UNISKA MAB0
- Hujan Hasil Operasi Modifikasi Cuaca Guyur Sejumlah Wilayah Kalsel0
- Polda Kalsel Kirim 1.000 Liter Cairan Pemadam Karhutla ke Polda Kalteng0
- Dishut Kalsel 24 Jam Jaga Hutan Lindung Liang Anggang Dari Karhutla0
- Dinkes Kalsel Perkuat Layanan Kesehatan Dampak Kabut Asap 0
Karya Njipah tidak sekadar menghadirkan pertunjukan tari, tetapi menjadi upaya kreatif untuk menerjemahkan kekayaan budaya masyarakat Dayak Deah ke dalam bahasa seni pertunjukan. Nama Njipah merujuk pada jipah, yakni perangkap jerat berbahan alam yang digunakan masyarakat dalam aktivitas berburu, selain tombak yang menjadi salah satu perangkat berburu.
Karya tersebut diinisiasi dan dikonsep seniman muda yakni M. Irfan Maulana atau nama panggungnya Palui Banaran itu bersama Sanggar Seni Suluh Banua. Proses penciptaannya dilakukan secara kolektif dengan menggali berbagai unsur tradisi Dayak Deah, mulai dari gerak, musik, hingga gagasan mengenai aktivitas berburu.
Tari “Njipah” mengusung tagline “Situ Poh Se Pajak Kaitn Gawi”, dengan pembinaan dari Disdikbud Tabalong serta penanggung jawab Gt. Judid Ihsan Permana.
Penataan tari dipercayakan kepada Budi Anugerah, Soraya yang dibantu secara eksekusi oleh Hasunailiya, penata musik Ersadi Ahmad Fadillah & Erfan Fathur, penata busana Shindu Tri Wignuo, penata rias Soraya, artistik Erstudio CreativeSpace, serta penata cahaya Muhammad Izmi.
Penari yaitu Budi, Soraya, Verina, Jayadi, Melita, Afrika, Nanda, Nabila dan Wanda. Kemudian, Pemusik yakni Ersadi, Om Thor, Isra, Erfan, Perdi, Anan, Agil, Rasyid, Nafis, Rafi, Dimas, Kenia dan Yulina.
Penggalian tersebut juga melibatkan tokoh Dayak Deah, Matuo Delis, sehingga proses kreatif tidak terlepas dari pengetahuan dan perspektif masyarakat sebagai pemilik tradisi.
Palui Banaran mengatakan, penciptaan Njipah berangkat dari keinginan untuk menghadirkan tradisi Dayak Deah secara lebih dekat kepada masyarakat melalui karya seni.
“Njipah ini murni kami garap bersama teman-teman. Kami berusaha tetap berpijak pada akar dari tradisi Dayak Deah, mulai dari gerak, musik, hingga tema berburu babi hutan. Dalam prosesnya, kami juga berdiskusi dan menggali pengetahuan langsung bersama tokoh Dayak Deah, Matuo Delis,” ungkap Palui Banaran saat dikonfirmasi, pada Kamis (10/9/2026).
Menurut Palui, proses tersebut penting agar pengembangan karya tari tidak sekadar mengambil bentuk tradisi, tetapi juga tetap membawa nilai dan identitas budaya yang melekat di dalamnya.
Di bawah binaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tabalong, Njipah menjadi wujud kolaborasi antara seniman, sanggar, pemerintah daerah, dan masyarakat dalam mengembangkan seni pertunjukan yang berakar pada kebudayaan lokal.
Dukungan terhadap pengembangan seni budaya tersebut juga diberikan Bupati Tabalong, Ir. H. Muhammad Noor Rifani, termasuk dalam keberangkatan kontingen Tabalong mengikuti Festival Karya Tari Daerah di Banjarmasin.
Bagi Sanggar Seni Suluh Banua, keberhasilan Njipah menjadi juara umum bukan sekadar capaian kompetisi. Prestasi tersebut menjadi momentum untuk membawa nilai budaya Dayak Deah keluar dari ruang komunitas dan memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
Setelah meraih juara umum, Njipah akan kembali dikembangkan untuk menghadapi panggung nasional. Sejumlah aspek, mulai dari koreografi, musik, artistik hingga penyajian, akan diperkuat agar karya tampil lebih matang tanpa kehilangan akar tradisinya.
“Kami akan melakukan pembenahan untuk dibawa ke tingkat nasional. Harapannya, Njipah tidak hanya menjadi karya yang berkompetisi, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan identitas pedalaman Kalimantan Selatan,” ujar Palui.
Ia berharap dukungan dari berbagai pihak terus mengalir sehingga karya tersebut dapat tampil maksimal pada Parade Tari Nusantara TMII 2026.
“Karena itu, kami sangat membutuhkan dukungan dan doa restu dari seluruh seniman serta masyarakat Kalimantan Selatan. Mudah-mudahan tahun ini menjadi rezekinya Kalimantan Selatan di tingkat nasional," tuturnya.
Salah satu penata tari, Budi Anugerah Sakti, mengatakan, karya tersebut dirancang dengan menyelaraskan gagasan koreografis dengan tema utama festival, yakni “Nafas Bumi dan Laut”.
Menurutnya, pemilihan konsep tersebut tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Dayak Deah yang memiliki keterikatan filosofis dan ketergantungan ekologis yang kuat terhadap alam, khususnya ekosistem hutan.
“Bagi masyarakat setempat, hutan bukan sekadar ruang geografis, tetapi menjadi tumpuan utama dalam menopang keberlangsungan hidup sekaligus menjaga keseimbangan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun,” ujar Budi.
Ia menjelaskan, secara tematis Karya Tari Njipah menggambarkan dinamika kehidupan seorang pemburu lokal yang hingga kini masih melakukan aktivitas berburu babi hutan sebagai salah satu sarana memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dalam proses penggarapannya, Budi menyebut terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah bagaimana mengembangkan ide cerita mengenai tradisi berburu agar tetap relevan dengan tema “Nafas Bumi dan Laut” yang diusung festival.
“Selain ide cerita, kami juga harus mengolah ketubuhan para penari, merancang kostum yang sesuai dengan garapan, serta melakukan riset lebih mendalam melalui narasumber,” katanya.
Riset tersebut dilakukan untuk memastikan karya Tari Njipah tetap memiliki pijakan tradisi yang kuat dan tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Dayak Deah di Kabupaten Tabalong.
Budi berharap Karya Tari Njipah dapat memberikan hasil terbaik dalam Festival Karya Tari Daerah Kalimantan Selatan 2026 dan nantinya mampu melanjutkan kiprah hingga ke tingkat nasional.
“Harapan kami, melalui karya Njipah ini masyarakat luas, terutama mereka yang belum mengetahui budaya Dayak Deah, bisa mengenal tradisi berburu yang ada di Kabupaten Tabalong, termasuk bagaimana masyarakat berburu babi hutan yang disebut wawoi,” pungkasnya.
Atas penampilannya, Sanggar Seni Buluh Banua berhasil meraih sejumlah penghargaan. Di antaranya Penyaji Terbaik Utama dengan hadiah Rp25 juta, Penyaji Unggulan Tanpa Jenjang Rp3 juta, Penata Tari Terbaik Rp2,5 juta, Penata Rias dan Busana Terbaik Rp2,5 juta, serta Penata Iringan Terbaik Rp2,5 juta.
Keberhasilan Njipah menjadi juara umum sekaligus membuka jalan ke panggung nasional menjadi bukti bahwa kekayaan tradisi lokal memiliki ruang besar untuk dikembangkan menjadi karya seni yang kreatif, sekaligus menjadi media untuk menjaga keberlanjutan identitas budaya masyarakat Dayak Deah dan Kalimantan Selatan. (M Rahim Arza)





