- IFA Archipelago Kalsel 2026 Dimulai, Fathul Jannah: Sasirangan Warisan Budaya Banjar
- Polresta Banjarmasin Tingkatkan Kesiapsiagan hadapi Ancaman Karhutla
- Warga Sungai Rangas Antusias Tukar Sampah dengan Sembako
- Pamor Borneo 2026 Ditutup, Hj. Fathul Jannah Tampil dengan Sasirangan Motif Borneo Bersama
- Lomba Masak Serba Ikan Kalsel 2026 Jadi Momentum Gerakan Makan Ikan untuk Cegah Stunting
- Gubernur H. Muhidin Resmi Buka Pamor Borneo 2026; Dorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Penguatan Investasi, Perdagangan dan Transformasi Digital
- Dit Intelkam Polda Kalsel Ajak Warga HSS Perkuat Persatuan
- Silaturahmi dengan Warga Tanjung Selor, Intelkam Polda Kalsel Bagikan Sembako
- Polda Kalsel Musnahkan 172,4 Kilogaram Sabu dan Ratusan Butir Ekstasi
- Job Fair Kalsel 2026 Sediakan 1.145 Lowongan Kerja
BPBD Tanah Laut Gelar Penguatan Kapasitas Kawasan Rawan Bencana di Kecamatan Tambang Ulang


Tanah Laut – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tanah Laut menggelar kegiatan Penguatan Kapasitas Kawasan Rawan Bencana di Aula Kantor Kecamatan Tambang Ulang pada rabu (26/2).
Acara ini dihadiri oleh perangkat desa, warga setempat, unsur Polsek Tambang Ulang, serta narasumber terkait yang membahas berbagai aspek kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Acara ini dibuka oleh Camat Tambang Ulang, yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Kasi Tata Pemerintahan Kecamatan Tambang Ulang, Putri Nurlita, S.STP.
Dalam sambutannya, Putri menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini di wilayahnya. Ia menekankan pentingnya pemahaman masyarakat terhadap potensi bencana di Kecamatan Tambang Ulang, yang dikenal rawan terhadap banjir serta kebakaran hutan dan lahan.
"Dengan kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat meningkatkan pengetahuan tentang bencana di lingkungan sekitar mereka. Kesadaran dan kesiapsiagaan menjadi kunci dalam menghadapi risiko bencana yang sewaktu-waktu dapat terjadi," ujar Putri saat membuka acara secara resmi.
Sementara itu, Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Tanah Laut, yang diwakili oleh Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Bakti Purwanto, ST, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian program pencegahan dan kesiapsiagaan bencana.
Ke depan, BPBD berencana untuk membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) serta Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) guna memperkuat koordinasi dan kolaborasi dalam penanggulangan bencana berbasis masyarakat sesuai konsep pentahelix.
Dalam sesi pemaparan materi, Rio Nanang Hermawan, ST, MT, selaku narasumber, mengulas pentingnya pergeseran paradigma dalam penanggulangan bencana. Sebelum disahkannya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, penanganan bencana di Indonesia masih bersifat kuratif, lebih berfokus pada kedaruratan.
"Dengan adanya regulasi ini, penanggulangan bencana tidak hanya bertumpu pada aspek darurat, tetapi juga harus memperkuat upaya preventif melalui pengurangan risiko bencana serta pemulihan pascabencana," jelas Rio, yang juga aktif di Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama Kalsel.
Rio menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat dalam setiap tahap penanggulangan bencana menjadi faktor utama dalam menekan risiko bencana.
"Masyarakat adalah pihak yang pertama kali terdampak ketika bencana terjadi. Oleh karena itu, mereka harus diberdayakan agar memiliki kesiapan yang lebih baik," pungkasnya.
Kegiatan ini diakhiri dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang interaktif.
Para peserta mendapatkan kesempatan untuk menggali lebih dalam mengenai strategi mitigasi dan kesiapsiagaan bencana di wilayah mereka. Dengan harapan besar, BPBD Kabupaten Tanah Laut menutup acara ini dengan mengajak seluruh stakeholder, terutama masyarakat, untuk terus meningkatkan kapasitas dan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana di masa depan.(smartbanua)
